Jadi, Kapan Nikah?

Pertanyaan kayak gitu awalnya cuma akan gue jawab dengan jawaban nyeleneh kayak, "Kalau nggak sabtu ya minggu". Sejujurnya gue nggak pernah benar-benar memikirkan pertanyaan-pertanyaan soal percintaan dengan serius, karena menurut gue percintaan bukan soal utama dalam hidup. Lupa juga sejak kapan. Awalnya pertanyaan-pertanyaan yang berhubungan dengan "Kapan nikah?" atau "Cowoknya orang mana?" dan lain-lain cuma jadi sebuah pertanyaan biasa yang lewat gitu aja. Karena balik lagi, percintaan bukan soal utama dalam hidup. Seenggaknya buat gue. Tapi belakangan, hal-hal kayak gitu mulai mengganggu pikiran. Bukan karena gue mulai berpikir untuk punya pacar atau segera menikah, tapi gue jadi berpikir, "Emangnya cinta beneran sepenting itu ya di hidup manusia?"

Gue nggak segitunya anti-romantic, bukan juga orang yang nggak percaya sama cinta. Cuma rasanya persoalan cinta apalagi menikah itu kayak terlalu jauh buat gue. Entah karena gue selalu merasa anak kecil -karena gue anak bungsu- atau karena udah terlalu banyak kisah cinta gue yang gagal. Gue udah melewati terlalu banyak deket sama cowok yang ujungnya malah nggak jadian. Deket lagi sama cowok yang berbeda, ujungnya cuma jadi penonton story Instagram satu sama lain. Sejatinya gue cuma manusia yang gampang bosen. Kenalan terus menerus dengan orang yang berbeda ternyata lumayan menghabiskan energi gue. Apalagi adaptasi dengan orang baru dan toleransi atas kekurang masing-masing. Capek. Maka dari itu, gue dan cinta adalah dua hal yang terlalu jauh.

Kadang, orang di sekitar gue suka bertanya, "Beneran nggak punya pacar? Masa, sih?" Gue kadang sampe capek buat jawabinnya saking terlalu sering. Maksud gue, emang apa yang bikin gue terlihat tidak meyakinkan kalau nggak punya pacar? Apakah gue terlihat seperti orang yang sedang jatuh cinta? Atau malah keliatan kayak orang yang stress karena sering berantem sama pacarnya? Haha, who knows. Sebenernya ada sebagaian dalam diri gue yang merasa gue nggak layak punya pacar. Kenapa? Karena selain males beradaptasi dengan orang atau lingkungan baru, gue juga males untuk chat-an. Tapi ya namanya orang pacaran, masa iya nggak berkomunikasi? Jadi dari pada gue harus berantem sama pacar gue karena gue slow respon kalau dichat, mending sekali nggak punya pacar, kan? 

Lagi pula, semakin bertambahnya usia, semakin banyak hal yang gue pikirkan dan gue pertimbangkan. Alasan lain kenapa gue saat ini nggak tertarik untuk pacaran, karena gue nggak nemu alasan kenapa gue harus pacaran? Apa? Apa alasan kuat kenapa gue harus pacaran? Apa kalau punya pacar gue jadi punya temen cerita? Kayaknya itu bukan alasan yang urgensinya jelas. Temen rumah gue Alhamdulillah masih bisa jadi temen cerita yang pas dan pendengar yang baik juga solutif. Apakah kalau punya pacar kebahgaiaan gue akan bertambah? Well, kayaknya nggak juga. Orang-orang di sekeliling gue yang punya pacar, almost every single day curhat ke gue kalau lagi berantem sama cowoknya. Dari masalah yang paling berat sampai yang paling sepele dan bikin gue ikut mikir, "Kayak gini emangnya harus segini dipermasalahinnya?" Lagian, gue masih bisa mencari kebahagiaan di tempat atau dengan cara lain. Nongkrong sama temen-temen udah bikin gue seneng, gue nonton YouTube pun seneng, bahkan main sama kucing pun udah bikin gue seneng. Jadi, punya cowok bukan satu-satunya sumber kebahagiaan gue. Terus apa lagi alasan gue harus punya pacar? Nggak ada.

Gue juga suka berpikir, di umur gue yang saat ini OTW 24 tahun, rasanya gue nggak mau pacaran yang cuma main-main. Terlalu ngabisin waktu. Tapi, gue juga bukan yang segitu siapnya untuk menikah. Karena menurut gue menikah itu bukan yang habis ijab qabul sah terus happily ever after. Jelas bakalan ada banyak masalah yang muncul. Jangankan menikah, sama temen aja pasti ada berantemnya, iya kan? Terus, apakah gue udah cukup matang dan siap untuk menghadapi konflik rumah tangga? Kayaknya nggak juga.

Rumah tangga itu terlalu rumit. Hal-hal yang harus gue pikirkan nggak cuma lagi soal gue dan pasangan gue. Tapi lebih dari itu. Karena yang terlibat itu banyak. Gue harus memikirkan suami gue, orang tua gue, orang tua suami gue, keluarga besar gue, keluarga besar suami gue, dan yang paling berat adalah anak gue di masa depan. Semakin bertambah usia, setiap kali ngomongin soal nikah yang jadi fokus utama gue adalah anak. Gue punya prinsip. Anak itu nggak bisa milih dia akan lahir di keluarga yang seperti apa dan orang tua yang bagaimana. Tapi gue sebagai ibunya punya pilihan untuk memberikan anak gue keluarga yang seperti apa dan orang tua yang bagaimana. Gue yang bertanggungjawab untuk lingkungan dan tumbuh kembang seperti apa yang anak gue akan dapatkan. Makanya, gue makin nggak ngoyo untuk menikah.

Gue ngerasa, pikiran dan ketakutan gue ini valid. Jadi, nggak harus buru-buru nikah, kan?

Komentar

Postingan populer dari blog ini

We Used To