Postingan

We Used To

Jika diingat dulu, sepertinya ada begitu banyak hal yang pernah kita lakukan. Semua sangat menyenangkan dalam ingatan. Terlalu indah hingga aku sulit melupakan. Aku dulu sangat menyukai hidupku. Berjalan dengan kedua tangan kita yang bertaut dan tawa yang saling berpaut. Aku suka ketika hari-hari sunyi selalu terisi dengan celotehmu tentang dunia, juga bagaimana malam yang kelam selalu berhasil kamu sulap bercahaya. Aku suka tiap kali kedua kaki kita melangkah pada jalan-jalan baru, indra perasa kita mengecap hidangan baru, dan mata kita dimanjakan dengan pemandangan baru. Aku suka. Saat itu aku mengira aku menyukai berjelajah. Mendapatkan pengalaman berharga yang jarang atau bahkan sulit aku temukan. Aku kira aku suka bertualang. Meratapi tiap jengkal dunia dengan rasa hangat dan dingin yang berbeda. Aku kira aku suka melangkah di tempat yang tak pernah ku jamah sebelumnya. Sayangnya aku salah. Aku bukan suka itu semua. Aku suka kamu. Aku suka kehadiranmu. Suka bagaimana tanganku yang...

Jadi, Kapan Nikah?

Pertanyaan kayak gitu awalnya cuma akan gue jawab dengan jawaban nyeleneh kayak, "Kalau nggak sabtu ya minggu". Sejujurnya gue nggak pernah benar-benar memikirkan pertanyaan-pertanyaan soal percintaan dengan serius, karena menurut gue percintaan bukan soal utama dalam hidup. Lupa juga sejak kapan. Awalnya pertanyaan-pertanyaan yang berhubungan dengan "Kapan nikah?" atau "Cowoknya orang mana?" dan lain-lain cuma jadi sebuah pertanyaan biasa yang lewat gitu aja. Karena balik lagi, percintaan bukan soal utama dalam hidup. Seenggaknya buat gue. Tapi belakangan, hal-hal kayak gitu mulai mengganggu pikiran. Bukan karena gue mulai berpikir untuk punya pacar atau segera menikah, tapi gue jadi berpikir, "Emangnya cinta beneran sepenting itu ya di hidup manusia?" Gue nggak segitunya anti-romantic , bukan juga orang yang nggak percaya sama cinta. Cuma rasanya persoalan cinta apalagi menikah itu kayak terlalu jauh buat gue. Entah karena gue selalu merasa ana...